Feeds:
Posts
Comments

Dear Clients,

Cutteristic is currently move to its new address in www.Cutteristic.com

Enjoy more of my paper cutting in new better look.

Enjoy with passion & obsession!

Kucu

Euro 2012

“Work Hard Play Hard” Barangkali kata yang paling pas untuk semua makhluk di bumi dalam membunuh waktu luang, lari dari rutinitas, dan berkomunikasi secara universal antar makhluk adalah ‘bermain’.

Lihat bagaimana wahana permainan di berbagai objek wisata dipenuhi manusia dari segala usia yang ingin memuaskan hasratnya untuk berteriak selepas-lepasnya. Tidak ada ruginya bagi mereka jika tidak menyelesaikan prosedur antrian panjang yang lama dan membosankan, tetapi mereka melakukannya meski harus berpanas-panas dan berpeluh keringat. Hanya untuk satu tujuan : ‘bermain’.

Perhatikan bagaimana seorang anak yang baru pulang sekolah langsung berlari menghampiri kucing kesayangannya dan mengajaknya bermain lempar bola. Seolah permainan yang mereka lakukan itu menjadi bahasa pemersatu antara manusia dan hewan.

Atau lihat kompetisi empat tahunan ajang dunia yang memaksa semua mata manusia menatap ke arah satu benda yang mampu menghipnotis seluruh umat manusia yang menggilainya. Kejuaraan sepak bola kelas dunia yang sebentar lagi akan digelar, bukan hanya berbicara tentang pekerjaan bagi setiap atlet kelas atas saling berebut piala untuk menaikkan karirnya atau melejitkan namanya sebagai pemain papan atas. Kejuaraan itu bisa dilihat sebagai wahana permainan yang dipenuhi passion seluruh pesertanya untuk menggenapi fantasi dan imajinasi mereka di lapangan hijau, seperti atraksi seorang kiper menghalau bola hasil tendangan lawan ke arah gawangnya dengan kakinya seperti yang pernah dilakukan Rene Higuita, kiper Kolombia yang terkenal dengan penyelamatan tendangan kalajengkingnya. Atau David Beckham yang mencetak gol dari tengah lapangan, di mana jika saja tendangannya saat itu tidak membuahkan gol tentunya semua orang akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya hanyalah aksi putus asa atau mungkin sebagian lagi akan berkomentar, “Seharusnya dia menggiring lebih ke dalam lagi atau mengoper bola kepada rekannya.”

Dalam pertandingan sepak bola selalu saja ada sosok fantasista yang menghadirkan permainan ajaib di luar dugaan yang mampu membuat hati para penggilanya berdegup kencang penuh rasa penasaran dan pertanyaan seperti,”Permainan macam apa yang akan kau perlihatkan hari ini?”

Dari sisi sosial, sepak bola telah menjelma dari sekedar olahraga yang dipertandingkan menjadi satu media pemersatu segala ras dan budaya. Terlihat dari spanduk-spanduk bertuliskan “No Racism” yang sering dikibarkan para penonton di stadion. Sepak bola juga menjadi lambang cinta dan berbagi dalam penerapannya bahwa team work dan kematangan emosi pemain menentukan kemenangan sebuah tim.

Jadi, sudahkah kamu menentukan siapa fantasistamu tanpa memikirkan dari negara mana dia berasal? Let football unites the difference!

Pesan bersenang-senang, kebersamaan, “Celebration and Sharing the Love” terlihat dalam pattern Euro 2012 yang diterjemahkan menjadi paper cutting oleh seorang ahli potong kertas. Pesta olahraga akbar ini membuatnya bernafsu memenuhi barometer passionnya untuk menghasilkan sebuah karya yang merepresentasikan hal-hal yang disebutkan tadi, karena baginya Euro 2012 bukan soal siapa melawan siapa, tetapi ada kesenangan dari kebersamaan yang terbentuk dengan diadakannya kejuaraan dunia ini.

ADIDAS is (A)ll (d)ay (I) (d)ream (a)bout (s)occer.” -David Beckham, seorang ambassador merk perlengkapan olahraga terkenal Adidas.

Kick off!

Alain Frost, 6.6.2012

True blessings flow from our ability to love and be loved by others – Wenny Lo, ex CEO Frank & Co Jewellery

in Fuchsia metallic paper and White peacock paper for background

68 x 48 cm frame size, special size request (price list)

DEWI KUCU in NOW PEOPLE, Home & Decor Indonesia Magazine, May 2012
Teks FERNANDO CHRISTIANUS
Fotografi PRASETYO WIBOWO

Kecintaan Dewi akan dunia kerajinan tangan dimulai ketika dirinya menjajaki bangku sekolah dasar. Dalam menekuni profesinya sebagai paper artist, ia memulai langkahnya dengan menghemat dana yang ia keluarkan untuk membeli kado.

Inspirasinya datang dari alam karena ia sangat menyukai hal-hal yang kompleks. Kegemarannya akan segala sesuatu yang kompleks menjadi acuan bagi wanita kelahiran Jakarta, 12 Mei untuk dicurahkan ke dalam karya-karyanya. Baginya karya yang idealis membutuhkan wakyu yang cukup lama dibandingkan karya yang cenderung bersifat komersial. Kepribadian yang idealis ini juga digambarkan dalam motto hidupnya yaitu I am an artisan and my life is dedicated to keep my art alive.

“Seorang seniman dikenal bukan karena kerja kerasnya dalam membuat suatu karya, namun dari apa yang dihasilkannya. Karya yang hebat kadang kala tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi bagaimana dia dalam berpikir untuk menciptakan karya yang besar,” ungkap wanita yang menyukai warna hijau dan merah ini.

Nama Kucu yang ada di belakang nama Dewi sebenarnya merupakan tambahan dari dirinya sendiri semenjak ia masih kecil. “Kucu itu merupakan singkatan dari tikus lucu yang menjadi hewan peliharaannya dan nama tersebut sudah melekat denga diri saya lebih dari 20 tahun. Orang tua tidak mempunyai masalah dengan hal tersebut. I decide what I want,” jawab Dewi sambil tertawa.

Check out other public expose in medias

Greatest Dad!

I cannot think of any need in childhood as strong as the need for a father’s protection. ~ Sigmund Freud

in Gold paper and Linen Red paper for background

45 x 35 cm frame size, special size request (price list)

Pengaku Karya

Kucari penyuka Gatot Kaca, bukan Yakuza
Kucari pemuja nusantara, bukan kolektor manga

Kucari pelukis karya, tanpa pewarna dan pena
Kucari pengaku karya, tanpa dia dan mereka

Kucari pencipta budaya, pencipta fantasi
Kucari pencitra sonata, pencitra ilusi

Kucari laskar pengagum, binar dan lantun
Kudapatkan matur nuwun..

 

Kucu, 5 Mei 2012

Red is the color of my rainbow
Tulip is the scent of my morning breeze
Table for two is the shade of my moonlight
Lullaby is the voice of my wind

Zaha Hadid is the shape of my mountain
Chelonia is the shape of my cloud
Turuland is the key of my forest
Art is the stream of my river

Paper is my companion in tranquility
Cutteristic is my passion and obsession

Kucu, 3 Mei 2012

Dewi Kucu: Iseng-iseng Berhadiah Sukses | FIMELA – Indonesian Online Fashion & Lifestyle Magazine.

DewiKucu:Iseng-isengBerhadiahSukses

 By Yemima Lintang KhastitiYEMIMA LINTANG KHASTITI  Posted on 17 April 2012

Dewi Kucu. Ia menyebut dirinya paper artist. Itu karena kecintaan Dewi pada paper cutting, seni tradisional dataran Cina. Bermula dari hobi, kini perempuan berumur 26 tahun yang pernah bekerja di Vinoti Living dan sekarang menjadi Creative & e-Media Manager di Sunpride ini makin serius menekuni hobinya “bermain-main” dengan kertas. (Foto: Windy Sucipto & dok. pribadi)

Iseng dan coba-coba, sampai jatuh cinta…

“Awalnya nemu karena iseng. Waktu itu lihat majalah fashion ada papper cutting sederhana, kayaknya bagus. Kebetulan juga mau nyiapin kado untuk keponakan yang ulang tahun. Ya sudah, saya coba bikin. Background saya kan arsitek yang selama kuliah sudah terbiasa menggunakan cutter untuk membuat tugas-tugas maket bangunan,” ungkap Dewi.

Percobaan iseng-isengnya itu ternyata diminati teman-temannya. Pesanan mulai datang dan akhirnya Dewi terpikir untuk menjadikannya bisnis kecil-kecilan pengisi waktu luang sepulang kerja, apalagi lewat pesanan demi pesanan itu hobi dan minat Dewi pada seni bisa tersalurkan. Maka dibuatlah Cutteristic. Mulanya pesanan datang dari orang-orang sekitar, lalu Dewi membuat Facebook dan website untuk melebarkan jaringan, dan caranya itu terbukti efektif membuatnya cukup dikenal publik.

Hobi akan tetap jadi hobi…

Ketika ditanya apa Dewi berencana menjadikan Cutteristic sebagai profesi, dengan tegas Dewi menjawab, “Nggak. Dasarnya ini hobi. Tujuan buat jadi massal pun enggak, karena sebenarnya pendekatannya lebih ke arah seni, jadi nggak bisa dibuat massal, apalagi dikejar-kejar waktu. Harus sesuai mood. Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer nggak ambil. Saat ini kebanyakan mengerjakan karya-karya yang konsepnya dari customer, ke depannya saya ingin karya Cutteristic yang lebih mengedepankan karya yang konsepnya dari saya sendiri.”

Biarlah ini menjadi karya eksklusif…

Semua orang punya impian karyanya dikenal publik dan banjir pesanan, tapi sebaliknya dengan Dewi. Dewi justru menghindari Cutteristic jadi boom dan jadi pesanan massal. Pasar Dewi yang terbatas di lingkungan sekitarnya memang mulai makin terbuka sejak ia membuat Facebook dan website, tempat Dewi memajang seluruh karyanya. Tapi, ia sudah merasa cukup terekspos dengan 2 media itu. Walaupun punya akun Twitter, Dewi mengaku tak terlalu aktif, apalagi kalau bukan karena ketakutannya jadi boom. “Memang sengaja lewat Facebook. Twitter ada, tapi saya nggak terlalu aktif. Selain lewat media online ya mouth by mouth saja. Kalau terlalu boom yang saya takutkan nantinya jadi massal. Dulu saja customer nemu-nya dari Facebook, sekarang sudah mulai banyak yang memang sengaja search Cutteristic atau Dewi Kucu. Publik sudah mulai aware.”

Pembatasannya itu beralasan. Kembali lagi ke konsep awal Dewi, bukan bisnis yang lebih ia utamakan, tapi seni. Dan seni akan hilang makna kalau akhirnya diproduksi secara massal tanpa passion dan asal-asalan demi memenuhi target. “Dulu ada yang contact tahu-tahu, lewat website. Pesan untuk ulang tahun Tomy Winata. Pemesannya cuma bilang dia (Tomy Winata) shio-nya anjing, terus dikasih fotonya. Sejak menyelesaikan Cutteristic untuk dia, hampir tiap hari ada saja pesanan yang dikerjain.

Cutter, ibarat soulmate

Cutter. Itu soulmate saya. Kalau orang mikir saya mengerjakan paper cutting dengan cutter pen, mereka salah. Saya pakai cutter biasa. Lebih ergonomis dan nyaman dipakai. Saya punya 8 cutter, macam-macam warna. Kalau pakai yang itu-itu terus kan, bosan. Tapi, ada satu yang jadi favorit dan belum terpikir ganti kalau belum nemuin yang lebih nyaman dari itu. Ada yang nitip dari teman yang ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada cutter minta dibeliin. Nggak semua dipakai juga, karena ternyata nggak nyaman dipakainya,” tutur Dewi bersemangat.


Tekun, kunci sukses menaklukkan hal baru…

Pertama, kebetulan melihat paper cutting sampai benar-benar jatuh cinta. Kedua, di Vinoti Living, sebelum bergabung dengan Sunpride, kebetulan kamera yang biasa digunakannya untuk memotret rusak, sehingga tiba-tiba perusahaan memberikan sebuah kamera SLR dan mempercayakan pembuatan katalog produk Vinoti Living kepadanya. Benarkah Dewi memang punya background atau hobi fotografi? Ternyata tidak. “Itu karena dipercayakan kamera SLR sama perusahaan karena kamera pocket yang biasa saya gunakan untuk motret home accessories mendadak rusak. Jadilah pakai kamere SLR itu saya diminta membuat katalog produk. Dari 2 katalog pertama yang hasilnya kurang memuaskan, saya belajar untuk menghasilkan yang lebih baik, da sekarang sudah menghasilkan lebih dari 10 katalog dan 2 majalah dengan standar seorang fotografer profesional,” jelas Dewi.

Dasarnya Dewi senang mempelajari hal baru dan antusias mencari tahu hal-hal yang asing dan unik. Sebelum terjun ke dunia paper cutting, atau sebelum jadi fotografer dadakan sampai akhirnya sangat menguasai pekerjaannya, Dewi juga sudah nekat sejak awal masuk kuliah. Lihat saja, tanpa keahlian menggambar, Dewi sangat tertarik desain grafis. Tapi, dengan dukungan keluarga, akhirnya ia memilih arsitektur, yang cukup dekat dengan desain grafis, karena tak diterima di sana, dan berkutat di dunia barunya sampai lulus sebagai salah satu lulusan terbaik. Setelahnya, bukannya menekuni bidang yang memberinya gelar sarjana, Dewi malah berkarier sebagai Creative Designer dan Fotografer, melanjutkan passion-nya yang sempat tertunda, lagi-lagi tanpa background pendidikan yang mendukung.

“Selama kuliah saya sudah menyukai home accessories sehingga ketika lulus kuliah, saya memutuskan untuk nggak berkarier di bidang arsitektur karena sudah menargetkan untuk masuk Vinoti Living sebagai tempat kerja pertama, ujarnya.

Meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu perlu…

Pekerjaannya membuat Dewi menghabiskan pagi hingga sore di kantor. Malam harinya sudah pasti ia akan berkutat dengan paper cutting, bahkan sampai subuh kalau ada pesanan yang harus segera diselesaikan. Begitu setiap hari. Tapi, wajib bagi Dewi menyisakan satu hari untuk kehidupan sosial. “Weekend saya lebih utamain untuk social life, tapi kalau ada deadline pekerjaan biasanya saya tetap sempetin untuk kumpul-kumpul sebentar, baru kembali lagi ke kerjaan. Biasanya kan, saya memang baru mulai kerjain paper cutting itu malam, jadi pagi sampai sore free. Sabtu biasa diisi dengan kegiatan gereja sekaligus bersosialisasi dengan teman-teman gereja, lalu Minggu sore spare waktu untuk social life dengan teman-teman di luar gereja, setelah kebaktian pagi.”

Belajar bisa dari mana saja, termasuk lewat lagu…

Mengaku tidak punya hobi lain selain paper cutting karena waktunya sudah habis berkutat di sana, Dewi ternyata penyuka musik China. Bukannya tanpa alasan, lewat lagu China-lah Dewi memperdalam kemampuan berbahasanya. “Dasarnya saya suka belajar bahasa macam-macam, termasuk bahasa China. Teman-teman, sparing partner buat ngomong China-nya jarang, susah, jadi mau nggak mau belajar lewat lagu. Lainnya ada juga, musik instrumen Bali, Yanni, juga Bond dan Maxim.”

Punya impian memamerkan seluruh karya…

Bagi seorang artis, tak ada yang lebih istimewa selain bisa mewujudkan mimpi untuk memamerkan seluruh karya ke ruang publik. Itu juga yang jadi mimpi Dewi Kucu, “Saya punya target suatu saat bisa memasang karya-karya saya ke ruang publik. Pikiran ada, cuma belum sempat bikin. Terakhir ini saya coba menggabungkan Cutteristic dengan origami, contohnya karya yang saya beri judul ‘Everlasting Rose’. Next, saya bakal mengerjakan origami ikan koi. Ada pesanan 88 koi dari origami digabungkan paper cutting.” Sampai saat ini, perempuan yang mengaku mendapat inspirasi dari alam dan batik ini sudah menghasilkan lebih dari 50 buah karya yang tersebar di berbagai tempat.

Berbagi skill ke orang lain, kenapa tidak?

Selain berpameran, Dewi juga punya impian bisa membagi keahliannya bermain kertas kepada orang lain. “Kalau buat mencari bibit-bibit baru kenapa nggak. Karena passion-nya juga untuk menginspirasi publik kalau barang sederhana tuh bisa jadi sesuatu yang WOW. Targetnya adalah bagaimana generasi yang sekarang ini bisa lebih explore, ini kan sebenarnya materi yang sangat sederhana, tantangannya adalah bagaimana kita bisa create something dari bahan yang very simple, gitu. With the touch of skill, bisa jadi satu karya yang bikin orang lain terpesona.”

Time to Love

To love someone is nothing
To be loved by someone is something
To love and and be loved by someone is everything..
Love me for a reason
Let the reason be love..
For a right person.. At the right TIME

 in White Pearly paper and Red Frame

and in Red Linen paper and White Frame

25 x 25 cm frame size (price list)

While express our love with flower is too common to do yet we still want to expose the beauty of love through flowers

Let’s try this with a different media, try to carve the beauty of rose in FUJI APPLE from Sunpride!

Billboards are located along Kuningan, Jl. HR Rasuna Said, February – March 2012

%d bloggers like this: